Magister Keperawatan UMM Jadi Ketua Pelaksana IC-STSD 2026, Buka Peluang Kolaborasi dengan ISEAS Singapore

  Malang — Program Studi Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipercaya Direktorat Program Pascasarjana UMM sebagai ketua pelaksana penyelenggaraan 4th International Conference on Sciences and Technology for Sustainable Development (IC-STSD) 2026 yang berlangsung pada Sabtu (13/6). Konferensi internasional ini mengangkat tema “Sciences and Technology for Sustainable Development: Integrating Innovation, Health, Education, and Social Transformation to Achieve the Sustainable Development Goals (SDGs).” Kegiatan menghadirkan akademisi dan peneliti dari berbagai negara untuk berbagi gagasan dan hasil riset terkait pembangunan berkelanjutan. Wakil Rektor IV Bidang Penelitian, Pengabdian Masyarakat. dan Kerjasama UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D didampingi Direktur Program Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Khozin, M.Si., membuka kegiatan yang diikuti 242 peserta. Sebanyak 42 peserta hadir secara langsung di UMM, sementara 200 peserta mengikuti kegiatan secara daring. Kepala Program Studi Magister Keperawatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom., mengatakan bahwa keterlibatan Magister Keperawatan dalam penyelenggaraan konferensi ini menjadi ruang untuk memperluas jejaring akademik sekaligus mempertemukan berbagai disiplin ilmu dalam isu pembangunan berkelanjutan. Empat pembicara utama hadir dalam konferensi tersebut. Mereka adalah Associate Professor Mun’im Sirry dari University of Notre Dame, Amerika Serikat, Dr. Irna Nurlina Binte Masron dari ISEAS–Yusof Ishak Institute, Singapura, Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng. dari Universitas Muhammadiyah Malang, dan Prof. Samir Derouiche dari El-Oued University, Algeria. Pada sesi kesehatan, dosen Magister Keperawatan UMM, Sri Sunaringsih Ika Wardojo, S.KM., MPH., Ph.D., dipercaya menjadi moderator diskusi Prof. Samir Derouiche yang membahas hubungan stres oksidatif dan penyakit kronis serta pentingnya strategi pencegahan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Tema ini sejalan dengan perhatian Magister Keperawatan UMM terhadap pencegahan dan pengelolaan penyakit tidak menular di masyarakat. Selain rangkaian konferensi, kegiatan ini juga menjadi momentum awal penjajakan kerja sama antara Magister Keperawatan UMM dan ISEAS–Yusof Ishak Institute Singapore melalui pertemuan dengan Dr. Irna Nurlina Binte Masron. ISEAS merupakan lembaga riset yang banyak menghasilkan kajian tentang masyarakat, kebijakan publik, pembangunan sosial, dan dinamika kawasan Asia Tenggara. Bagi Magister Keperawatan UMM, perspektif yang dikembangkan ISEAS relevan dengan berbagai isu kesehatan masyarakat yang saat ini menjadi fokus penelitian program studi. Ke depan, peluang kolaborasi dapat diarahkan pada penelitian pencegahan penyakit tidak menular berbasis keluarga dan komunitas, kesehatan perempuan, inovasi layanan penyakit kronis, sintesis bukti ilmiah, hingga kesehatan mental dan psikospiritual masyarakat. Bidang-bidang tersebut sejalan dengan lima klaster riset Magister Keperawatan UMM, yaitu Community & Family-Based NCD Prevention, Maternal & Women’s Health in NCD, Chronic Care & Medical-Surgical Innovation, Evidence Synthesis & Cognitive Health, serta Mental Health & Psychospiritual Care in NCD. Bagi Magister Keperawatan UMM, konferensi ini bukan hanya forum untuk mempresentasikan hasil penelitian. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk bertemu, berdiskusi, dan membuka peluang kerja sama yang dapat dikembangkan dalam bentuk riset bersama, publikasi, maupun program akademik di masa mendatang.    

S2 Keperawatan UMM Gandeng RSSA Malang, Buka Peluang Studi dan Peningkatan Kualitas SDM Perawat

MALANG – Program Studi (Prodi) Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan kunjungan strategis ke Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka sosialisasi dan promosi program pascasarjana guna menjaring perawat profesional RSSA untuk melanjutkan studi lanjut di Kampus Putih UMM. Langkah ini diambil sebagai bentuk sinergi antara akademisi dan praktisi kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui pendidikan tinggi yang berkualitas. Sinergi Kampus dan Rumah Sakit Rektor Universitas Muhammadiyah Malang menyambut baik kolaborasi ini. Dalam keterangannya, beliau menyampaikan bahwa UMM berkomitmen penuh mendukung peningkatan jenjang pendidikan tenaga kesehatan di Jawa Timur. “Sosialisasi dan kerja sama ini adalah wujud nyata dari pengabdian UMM untuk bangsa. Kami menyediakan kurikulum yang adaptif dengan kebutuhan rumah sakit tipe A seperti RSSA. Kami berharap para perawat dapat mengembangkan jiwa kepemimpinan berbasis riset Islami di sini, sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi dunia kesehatan,” ujar Kaprodi S2 Keperawatan UMM Dukungan Penuh dari Pihak RSSA Pihak manajemen RSSA Malang menyambut antusias program yang ditawarkan oleh S2 Keperawatan UMM. Pimpinan RSSA menekankan pentingnya upgrading kompetensi bagi tenaga perawat demi menunjang akreditasi dan profesionalisme pelayanan. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran tim S2 Keperawatan UMM. RSSA selalu mendorong perawat kami untuk terus belajar, sehingga diharapkan terjadi transformasi keilmuan yang berdampak langsung pada kualitas perawatan pasien di lapangan,” ungkap pimpinan RSSA Malang. Mewujudkan Pemimpin Keperawatan Masa Depan Kegiatan promosi ini merupakan bagian dari upaya besar Prodi S2 Keperawatan UMM untuk mewujudkan visi Islamic Research-Based Nursing Leadership in Non-Communicable Disease (NCD). Dengan kurikulum berbasis riset dan nilai-nilai Islami, lulusan diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan di institusi kesehatan tempat mereka mengabdi. (editor:muslih)

S2 Keperawatan UMM Perkuat Literasi Riset Melalui International Guest Lecture Bersama Pakar Dari Malaysia

MALANG – Program Studi Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar International Guest Lecture pada 30 April 2026. Acara yang dilaksanakan secara daring ini menghadirkan pakar keperawatan ternama dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Assoc. Prof. Dr. Rusnani Ab Latif, yang membedah tuntas topik krusial mengenai Research Design. Kegiatan ini dipandu secara interaktif oleh Henny Dwi Susanti, Ph.D. selaku moderator, dan diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa pascasarjana serta akademisi. Fokus utama diskusi adalah memperdalam pemahaman mengenai metodologi penelitian yang tepat untuk menjawab tantangan kesehatan global saat ini. Integrasi Visi dan Kepemimpinan Penyelenggaraan kuliah tamu internasional ini merupakan langkah nyata dalam mewujudkan visi besar Prodi S2 Keperawatan UMM, yakni menjadi pusat pendidikan yang unggul dalam Islamic Research-Based Nursing Leadership in Non-Communicable Disease (NCD). Dengan menggandeng pakar internasional, prodi berupaya mencetak pemimpin perawat yang mampu mengelola penyakit tidak menular berbasis bukti ilmiah dan nilai-nilai Islami. Ketua Program Studi S2 Keperawatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep, Sp.Kom,menegaskan bahwa penguatan riset adalah fondasi utama bagi mahasiswa magister. “Melalui International Guest Lecture ini, kami ingin memastikan mahasiswa memiliki cakrawala luas dalam menentukan desain riset yang inovatif. Hal ini sejalan dengan visi prodi kita, di mana kepemimpinan keperawatan harus berpijak pada riset yang kuat (research-based) untuk menangani penyakit tidak menular, namun tetap teguh pada koridor nilai-nilai keislaman,” ujar Kaprodi S2 Keperawatan UMM. Dukungan Universitas dan Antusiasme Mahasiswa Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si, dalam testimoninya menyampaikan apresiasi tinggi atas konsistensi Prodi S2 Keperawatan dalam membangun jejaring global. “Kegiatan ini adalah bukti komitmen UMM dalam mengejar internasionalisasi. Kami ingin lulusan S2 Keperawatan tidak hanya jago di kandang, tapi memiliki standar berpikir global untuk memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” ungkapnya. Intan, salah satu mahasiswa S2 Keperawatan yang mengikuti acara juga memberikan kesannya: “Pemaparan Dr. Rusnani sangat mencerahkan. Kami mendapatkan perspektif baru tentang bagaimana menyusun desain riset yang robust untuk menangani kasus-kasus kronis (NCD) di lapangan. Ini sangat membantu kami dalam mempersiapkan tesis yang berkualitas,” ujarnya. Sinergi Akademik Lintas Negara Kegiatan yang berlangsung selama tiga jam ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang dinamis, di mana para mahasiswa mengonsultasikan rancangan penelitian mereka langsung kepada Dr. Rusnani. Diskusi hangat ini tidak hanya memperkaya wawasan metodologis, tetapi juga membuka peluang kolaborasi riset antara mahasiswa UMM dan UiTM Malaysia di masa depan. Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk terus meningkatkan kualitas luaran riset yang dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi. Melalui kuliah tamu ini, Prodi S2 Keperawatan UMM kembali meneguhkan posisinya sebagai pionir dalam mencetak pemimpin keperawatan yang religius, ilmiah, dan berdaya saing global dalam penanggulangan penyakit tidak menular.   (editor: muslih)

Gandeng Pakar Internasional, Prodi S2 Keperawatan UMM Gelar Ujian Proposal Tesis Perdana

MALANG – Program Studi Magister (S2) Keperawatan, Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sukses menyelenggarakan rangkaian ujian proposal tesis bagi mahasiswa angkatan pertama pada tanggal 5 dan 6 Mei 2026. Momentum ini menjadi tonggak sejarah penting bagi prodi dalam mewujudkan visinya sebagai pusat “Islamic Research-Based Nursing Leadership in Non-Communicable Diseases.” Langkah Awal Menuju Riset Berkualitas Ujian proposal ini merupakan starting point yang krusial bagi para mahasiswa Magister Keperawatan untuk mematangkan rancangan penelitian mereka. Fokus utama yang diusung tetap berakar pada penguatan kepemimpinan keperawatan berbasis riset Islami, khususnya dalam penanganan penyakit tidak menular (Non-Communicable Diseases/NCDs) sebelum terjun langsung ke lapangan. Hadirkan Penguji dari Malaysia Ada yang istimewa dalam pelaksanaan ujian kali ini. Guna memastikan standar kualitas penelitian yang berdaya saing global, Prodi S2 Keperawatan UMM menghadirkan jajaran penguji ahli dari universitas ternama di Malaysia. Para pakar yang terlibat sebagai penguji tamu antara lain:Dr. Wan Marina Wan Ismail (Universiti Teknologi Mara Malaysia/UiTM), Dr. Rusnani Ab Latif (Universiti Teknologi Mara Malaysia/UiTM), Assoc. Prof. Ts. Dr. Wan Ismahanisa Ismail (Universiti Teknologi Mara Malaysia/UiTM), dan Assistant Professor Dr. Rosnani Binti Sarkarsi (International Islamic University Malaysia/IIUM). Langkah berani melibatkan penguji internasional ini bertujuan memastikan bahwa setiap riset yang lahir dari mahasiswa memiliki standar publikasi internasional dan mampu menjawab tantangan global dalam lingkup NCDs dengan pendekatan nilai-nilai keislaman.  Standar Global Sebagai Prioritas Utama Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si, memberikan apresiasi tinggi atas langkah progresif yang diambil oleh Prodi S2 Keperawatan. Menurutnya, keterlibatan penguji internasional adalah cerminan dari visi UMM sebagai universitas berkelas dunia. “Kami di UMM berkomitmen untuk tidak hanya melahirkan lulusan bergelar magister, tetapi juga intelektual yang memiliki daya saing global Kehadiran para pakar dari UiTM dan IIUM dalam ujian proposal ini adalah bukti nyata bahwa kualitas akademik kita telah selaras dengan standar internasional. Kami ingin riset mahasiswa memiliki resonansi dan dampak yang diakui secara luas, tidak hanya di tingkat nasional tapi juga di level mancanegara,” tegas Prof. Nazaruddin. Membangun Perspektif Riset yang Komprehensif Senada dengan hal tersebut, Kaprodi S2 Keperawatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, menjelaskan bahwa kurikulum prodi dirancang secara spesifik untuk mencapai visi Islamic Research-Based Nursing Leadership in Non-Communicable Diseases. Oleh karena itu, masukan dari pakar luar negeri menjadi sangat krusial. “Melalui pelibatan penguji dari universitas-universitas di Malaysia,seperti Dr. Wan Marina, Dr. Rusnani, Dr. Rosnani, dan Dr. Wan Ismahanisa, kami memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan ‘global coaching’. Tujuannya jelas: mempertajam pisau analisis mereka dan memberikan perspektif berbeda mengenai tren keperawatan global. Ini adalah langkah awal kami dalam menyiapkan peneliti yang handal, kritis, dan mampu menjawab persoalan kesehatan yang kompleks,” ungkap Prof. Yoyok. Keunggulan Strategis bagi Mahasiswa Melibatkan penguji luar negeri memberikan dampak bagi nilai jual lulusan, di antaranya: Perspektif Lintas Negara: Mahasiswa mendapatkan masukan mengenai tren nursing care dan kebijakan kesehatan yang berlaku di Malaysia dan Asia Tenggara. Jejaring Internasional: Membuka peluang kolaborasi riset lebih lanjut dengan pakar luar negeri. Validasi Kualitas: Menjadi bukti bahwa kurikulum dan standar akademik S2 Keperawatan UMM diakui oleh mitra luar negeri. Testimoni Mahasiswa: Pengalaman Global yang Menantang Beberapa mahasiswa mengungkapkan rasa bangga sekaligus tantangan yang ia rasakan selama proses ujian berlangsung. “Awalnya saya cukup tegang karena diuji langsung oleh pakar dari luar negeri. Namun, masukan dari penguji seperti Dr. Rusnani sangat membuka mata saya mengenai bagaimana riset tentang penyakit tidak menular (NCDs) dipandang secara global. Diskusi tadi tidak hanya soal teori, tapi bagaimana nilai-nilai Islam bisa menjadi landasan kepemimpinan dalam praktik keperawatan di masa depan. Ini pengalaman yang luar biasa bagi pengembangan karier saya,” ungkap Jana, mahasiswa S2 Keperawatan. Senada dengan Jana, beberapa mahasiswa lain juga membagikan pengalamannya setelah ujian berlangsung. “Ujian berlangsung tertib, professional, serta memberikan suasana akademik yang nyaman dan kondusif bagi mahasiswa”, ungkap Ari Wijaya. Hal senada juga di ungkapkan oleh Eva “Para penguji adalah pakar di bidangnya, pertanyaan dan arahan nya sesuai dengan bidang penelitian kami, terimakasih S2 Keperawatan UMM telah menghadirkan pembimbing dan penguji yang handal”. Terlaksananya ujian ini merupakan bukti nyata dari ekosistem akademik berkualitas tinggi di UMM. Para mahasiswa didampingi secara intensif melalui kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan industri kesehatan modern. Akhirnya, setelah ujian ini di harapkan para mahasiswa S2 Keperawatan UMM memiliki wawasan luas dan berani melihat tantangan kesehatan dari berbagai perspektif serta dapat segera melanjutkan tahap penelitian dengan bimbingan yang lebih matang, serta berkontribusi nyata dalam inovasi pelayanan kesehatan di masa depan. (editor: muslih) 

Transformasi Perawat di Ruang Dialisis: Menggabungkan Teknologi, Hati, dan Nilai Spiritual

Tantangan penyakit tidak menular (NCD), khususnya gagal ginjal kronis, menuntut perubahan besar dalam pola asuhan keperawatan. Perawat kini tidak lagi dipandang sebagai pelaksana teknis mesin hemodialisis semata, melainkan bertransformasi menjadi Nurse Educator yang strategis. Anni Sumarni, mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyoroti pentingnya kepemimpinan perawat yang menyentuh sisi kemanusiaan. Menurutnya, pendekatan Outcome-Based Education (OBE) dan filosofi andragogi (pembelajaran dewasa) menjadi kunci dalam menangani pasien dialisis yang butuh dihargai sebagai pribadi mandiri. “Perawat harus mampu menunggu ‘momen belajar’ yang tepat. Membangun kepercayaan hingga pasien merasa informasi medis adalah kebutuhan vital, bukan sekadar perintah,” jelasnya dalam artikel refleksi kepemimpinan perawat. Sentuhan Spiritual dan Kolaborasi Uniknya, transformasi ini juga mengintegrasikan nilai-nilai spiritual Islam. Tubuh dipandang sebagai amanah, sehingga menjaga pola makan dan jadwal dialisis menjadi bentuk ikhtiar yang bernilai ibadah. Konsep tawakal juga diajarkan untuk membantu pasien menerima kondisi klinis dengan lapang dada, yang secara medis terbukti mengurangi stres metabolik. Selain sisi spiritual, efektivitas perawatan didorong melalui Interprofessional Education (IPE). Perawat bertindak sebagai koordinator yang menyatukan peran dokter, nutrisionis, hingga apoteker dalam satu harmoni pelayanan. Penggunaan inovasi digital seperti video microteaching turut memperkuat kemandirian pasien dalam memantau kesehatan mereka. Mencetak Perawat Berkarakter Transformasi peran ini diharapkan menjadi standar baru dalam pendidikan tinggi keperawatan. Fokusnya bukan hanya pada kemahiran klinis, tetapi juga kekuatan karakter spiritual dan kompetensi kepemimpinan profesional. Dengan sinergi antara teori yang memanusiakan manusia, nilai religi, dan kolaborasi lintas profesi, perawatan di ruang dialisis diharapkan menjadi lebih bermartabat dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara signifikan. Sumber: Refleksi Pemikiran Anni Sumarni (Mahasiswa Magister Keperawatan UMM)

​Gebrakan Magister Keperawatan UMM: Transformasi Peran Perawat Global Lewat Riset dan Nilai Keislaman

MALANG – Program Studi Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat posisinya sebagai pionir pengembangan keilmuan keperawatan di kancah internasional. Melalui gelaran International Guest Lecture, UMM menekankan urgensi transformasi peran perawat dalam menghadapi epidemi Penyakit Tidak Menular (PTM) yang semakin kompleks. Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, menegaskan bahwa perawat masa kini harus berani berpindah paradigma. Perawat tidak lagi hanya berperan di ranah klinis, tetapi harus berevolusi menjadi pemimpin berbasis riset yang mampu menyentuh aspek sosial dan kebijakan. Integrasi Tiga Model Teoretis: Kunci Intervensi Modern Menurut Prof. Yoyok, PTM adalah persoalan multidimensional yang dipengaruhi perilaku, lingkungan, hingga kebijakan publik. Untuk menjawab tantangan tersebut, ia menawarkan integrasi tiga kerangka besar sebagai fondasi intervensi keperawatan modern: PRECEDE–PROCEED Model: Memastikan program kesehatan dirancang sesuai kebutuhan nyata dan diagnosis sosial masyarakat. Pender’s Health Promotion Model: Memahami sisi psikososial dan motivasi individu dalam mengadopsi perilaku sehat. Social Ecological Model: Menempatkan intervensi dalam konteks sistem yang lebih luas, termasuk pengaruh keluarga hingga kebijakan pemerintah. “Pendekatan tunggal tidak lagi cukup. Mahasiswa magister harus mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya efektif secara klinis, tetapi juga relevan secara sosial dan berkelanjutan,” ujar Prof. Yoyok. Keunggulan Lokal: Kepemimpinan Berbasis Nilai Islam Salah satu poin krusial yang membedakan Magister Keperawatan UMM dengan institusi lain adalah integrasi nilai-nilai Islam dalam kepemimpinan keperawatan. Prof. Yoyok menjelaskan bahwa nilai spiritual bukan sekadar pelengkap, melainkan landasan etik dalam pengambilan keputusan dan advokasi kebijakan. Dengan pendekatan ini, lulusan UMM dipersiapkan menjadi change agent (agen perubahan) yang memiliki integritas moral dan spiritual tinggi, selain keunggulan akademik yang mumpuni. Aktor Kunci dalam Sistem Kesehatan Global Mengingat keterlibatan perawat di sepanjang siklus hidup pasien, profesi ini memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam pencegahan primer dan deteksi dini penyakit kronis di komunitas. Diskusi dalam acara tersebut juga menyoroti pentingnya kolaborasi internasional melalui pertukaran praktik terbaik (best practices) antarnegara. Melalui International Guest Lecture ini, Magister Keperawatan UMM kembali membuktikan komitmennya sebagai pusat pengembangan sains keperawatan yang adaptif. Masa depan profesi perawat kini berada pada integrasi yang kuat antara teori, riset, nilai-nilai luhur, dan praktik nyata yang berdampak luas bagi kesehatan masyarakat.

​Transformasi Perawat: Dari Klinisi Menjadi Pemimpin Pengendali Penyakit Tidak Menular

MALANG – Program Studi Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat posisinya dalam pengembangan sains keperawatan melalui gelaran International Guest Lecture. Mengusung tema “Nurse-Led Intervention for NCD Prevention and Control”, acara ini menyoroti peran krusial perawat dalam menghadapi ancaman global Penyakit Tidak Menular (PTM). Hadir sebagai pembicara utama, Ketua Program Studi Magister Keperawatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, memaparkan fakta krusial bahwa PTM kini menyumbang lebih dari 71% kematian di seluruh dunia. Angka ini, menurut Prof. Yoyok, adalah sinyal bahwa pendekatan kesehatan tidak lagi bisa hanya mengandalkan aspek kuratif atau pengobatan semata. Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo saat memberikan materi dalam International Guest Lecture. Perawat sebagai Agen Perubahan Dalam orasinya, Prof. Yoyok menegaskan perlunya transformasi peran. Perawat masa kini dituntut untuk keluar dari zona nyaman asuhan klinis dan berani mengambil tongkat kepemimpinan dalam upaya promotif dan preventif. “Perawat harus hadir sebagai pemimpin, peneliti, sekaligus agen pencegahan di tengah masyarakat. Kekuatan kita ada pada kedekatan dengan pasien dan komunitas; itulah modal strategis untuk mengubah perilaku kesehatan masyarakat,” tegas Prof. Yoyok. Sinergi Teori dan Nilai Keislaman Untuk memperkuat intervensi di lapangan, ia membedah integrasi tiga model teoretis besar: PRECEDE–PROCEED, Pender’s Health Promotion, dan Social Ecological Model. Perpaduan ini memungkinkan perawat melakukan diagnosis sosial yang mendalam hingga memahami motivasi individu dalam menjalankan pola hidup sehat. Yang membedakan, Magister Keperawatan UMM mengintegrasikan teori-teori tersebut dengan nilai-nilai spiritual. Pendekatan ini disebut sebagai Islamic Research-Based Nursing Leadership in Non-Communicable Diseases. Tujuannya jelas: mencetak lulusan yang unggul secara akademik namun tetap teguh pada nilai Islam dan Muhammadiyah dalam memberikan kontribusi nyata bagi kebijakan kesehatan. Kolaborasi Global dan Masa Depan Keperawatan Menutup paparannya, Prof. Yoyok menekankan bahwa tantangan PTM bersifat lintas batas negara. Oleh karena itu, kolaborasi riset internasional dan inovasi yang adaptif menjadi harga mati. Perawat diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana di ruang perawatan, tetapi juga aktor utama di ranah kebijakan dan pemberdayaan masyarakat. Antusiasme peserta yang terdiri dari akademisi dan praktisi membuktikan adanya kesadaran baru: perawat adalah garda terdepan sekaligus penjaga kesehatan publik yang mampu menekan angka PTM di level nasional maupun global.

Menuju Transformasi Layanan Kesehatan Global: Menghadapi Penyakit Tidak Menular

Universitas Muhammadiyah Malang dengan bangga menghadirkan International Guest Lecture bertajuk: “Nurse-Led Interventions for Non-Communicable Disease Prevention and Control” Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan global, peran perawat menjadi garda terdepan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular (PTM). Melalui forum internasional ini, kita akan membedah inovasi strategi intervensi keperawatan dari berbagai perspektif lintas benua bersama pakar dari: 🇮🇩 Indonesia | 🇸🇦 Saudi Arabia | 🇿🇦 Afrika | 🇨🇿 Republik Czech | 🇲🇾 Malaysia 📅 Tanggal: Rabu, 25 Februari 2026 ⏰ Waktu: 08.00 – 15.00 WIB 📍 Platform: Daring (via Zoom Meeting) Acara ini akan dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Nazaruddin Malik, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. 🚀 Daftar & Gabung Sekarang *Terbuka untuk Mahasiswa, Praktisi, dan Umum

Perawat Komunitas: Ujung Tombak Pengendalian Penyakit Tidak Menular Menuju Kampus Berdampak

Penyakit Tidak Menular (PTM) atau Non-Communicable Diseases (NCDs) kini menjadi tantangan kesehatan terbesar, baik di tingkat global maupun nasional. Data menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen kematian di dunia disebabkan oleh PTM, seperti penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan penyakit pernapasan kronis. Indonesia sendiri menghadapi situasi yang tidak kalah serius, dengan PTM menyumbang sekitar 73 persen dari seluruh angka kematian dan banyak terjadi pada usia produktif. Isu krusial ini menjadi fokus utama dalam Kuliah Pakar Program Studi Ilmu Keperawatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Hafshawaty Zainul Hasan pada Minggu, 8 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, dosen dan akademisi keperawatan komunitas dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sebagai narasumber utama. Selain dikenal luas sebagai pakar, Prof. Yoyok juga merupakan Ketua Program Studi Magister Keperawatan UMM. Kehadiran beliau dalam kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari program pengenalan dan sosialisasi prodi Magister Keperawatan kepada para mahasiswa dan praktisi, guna memberikan gambaran nyata mengenai kedalaman keilmuan serta prospek strategis pendidikan pascasarjana keperawatan dalam menjawab problematika kesehatan global. Beban PTM dan Tantangan Indonesia Dalam pemaparannya, Prof. Yoyok menjelaskan bahwa Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan beban PTM tertinggi di dunia. Indonesia bahkan tercatat memiliki prevalensi hipertensi tertinggi di kawasan, yang menjadi indikator kuat perlunya intervensi kesehatan kardiovaskular secara lebih sistematis. Beliau menekankan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada tingginya angka kejadian, tetapi pada kesiapan sumber daya perawat. “Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas perawat melalui pendidikan lanjut yang menekankan kepemimpinan klinik dan riset terapan. Di sinilah kurikulum Magister Keperawatan dirancang untuk mencetak perawat yang mampu menjadi pengambil keputusan strategis di lapangan,” jelasnya. Pendekatan Teoretis dan Diagnosis Profesional Kuliah pakar ini memperkaya wawasan mahasiswa dengan berbagai pendekatan teoretis seperti PRECEDE–PROCEED Model dan Health Promotion Model (HPM). Peserta diajak memahami bahwa perawat harus mampu membaca data dan menyusun intervensi berbasis riset—sebuah kompetensi inti yang ditekankan dalam pendidikan magister. Salah satu penekanan penting adalah penguatan diagnosis keperawatan berbasis SDKI, seperti Ineffective Health Management dan Risky Health Behavior. Prof. Yoyok menegaskan bahwa penguasaan diagnosis ini merupakan ciri perawat profesional yang terus diperkuat melalui jenjang pendidikan berkelanjutan. Menuju Kampus Berdampak: Agenda Internasional Mendatang Menutup sesi, Prof. Yoyok menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi penggerak perubahan sosial atau “Kampus Berdampak”. Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan dalam memperluas cakrawala internasional terkait isu ini, beliau mengumumkan agenda besar yang akan segera dilaksanakan. Sebagai kelanjutan dari semangat sosialisasi program magister dan penguatan keilmuan, akan diadakan Kuliah Tamu Internasional terkait NCD pada 25 Februari 2026. Agenda prestisius ini akan menghadirkan pakar-pakar keperawatan dan kesehatan dari berbagai belahan dunia, mulai dari Republik Ceko (Czech Republic), Arab Saudi, Malawi (Afrika), hingga Malaysia. “Kegiatan internasional ini bertujuan untuk membedah penanganan PTM dari berbagai perspektif lintas negara, sekaligus memberikan eksposur global bagi mahasiswa yang ingin mendalami keahliannya di tingkat magister,” tambah Prof. Yoyok. Kuliah pakar ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kritis bahwa perubahan besar dalam kesehatan masyarakat dimulai dari langkah konsisten di komunitas. Dengan pendidikan yang lebih tinggi dan wawasan global, perawat Indonesia siap berkontribusi langsung dalam menyelamatkan masa depan bangsa melalui visi pendidikan keperawatan yang berkelanjutan.

Internasionalisasi Magister Keperawatan UMM: Kolaborasi Strategis dengan UiTM Hadapi Tantangan Kesehatan Global

Gambar : Foto bersama Tim UiTM dan Tim Magister Keperawatan UMM saat pertukaran cinderamata Program Magister Keperawatan (MoN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkokoh posisinya di kawasan Asia Tenggara. Langkah strategis ini diwujudkan melalui kolaborasi akademik dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, guna memperkuat pengembangan pendidikan keperawatan berbasis riset dan nilai-nilai Islam. Fokus pada Penyakit Tidak Menular (NCD) Program MoN UMM dirancang untuk menjawab tantangan kesehatan global, khususnya pada isu penyakit tidak menular (Non-Communicable Diseases). Ketua Prodi Magister Keperawatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, menekankan bahwa kurikulum Outcome-Based Education (OBE) yang diterapkan menjamin setiap mahasiswa menghasilkan luaran nyata, seperti artikel ilmiah dan naskah kebijakan. “Internasionalisasi adalah strategi jangka panjang kami untuk melahirkan lulusan yang mampu memberikan solusi nyata bagi masalah kesehatan regional maupun global,” tegas Prof. Yoyok. Apresiasi Global dan Sinergi Riset Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UiTM, Prof. Dr. Mohd Haidzir bin Abd Manaf, menyambut positif kerja sama ini. Menurutnya, perpaduan antara kekuatan riset UMM dan landasan etika Islam menjadi modal kuat untuk menghasilkan penelitian kolaboratif yang berdampak luas di Asia Tenggara. Visi Reputasi Dunia Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, menyatakan bahwa penguatan jejaring internasional adalah bagian integral dari visi UMM sebagai universitas berkelas dunia. Ia menilai bidang keperawatan memiliki peran strategis dalam diplomasi akademik dan kemanusiaan antarnegara. Senada dengan hal tersebut, Direktur Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Khozin, menambahkan bahwa mahasiswa pascasarjana akan mendapatkan pengalaman internasional yang komprehensif, mulai dari riset kolaboratif hingga interaksi langsung dengan akademisi mancanegara. Ke depan, kerja sama ini akan dikembangkan melalui program joint supervision, seminar internasional, dan publikasi bersama untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dunia. (Sumber artikel resmi : https://indonesiandaily.com/magister-keperawatan-umm-mantapkan-posisi-di-asia-lewat-kolaborasi-dengan-uitm-malaysia/)