
Penyakit Tidak Menular (PTM) atau Non-Communicable Diseases (NCDs) kini menjadi tantangan kesehatan terbesar, baik di tingkat global maupun nasional. Data menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen kematian di dunia disebabkan oleh PTM, seperti penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan penyakit pernapasan kronis. Indonesia sendiri menghadapi situasi yang tidak kalah serius, dengan PTM menyumbang sekitar 73 persen dari seluruh angka kematian dan banyak terjadi pada usia produktif.
Isu krusial ini menjadi fokus utama dalam Kuliah Pakar Program Studi Ilmu Keperawatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Hafshawaty Zainul Hasan pada Minggu, 8 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, dosen dan akademisi keperawatan komunitas dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sebagai narasumber utama.
Selain dikenal luas sebagai pakar, Prof. Yoyok juga merupakan Ketua Program Studi Magister Keperawatan UMM. Kehadiran beliau dalam kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari program pengenalan dan sosialisasi prodi Magister Keperawatan kepada para mahasiswa dan praktisi, guna memberikan gambaran nyata mengenai kedalaman keilmuan serta prospek strategis pendidikan pascasarjana keperawatan dalam menjawab problematika kesehatan global.
Beban PTM dan Tantangan Indonesia
Dalam pemaparannya, Prof. Yoyok menjelaskan bahwa Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan beban PTM tertinggi di dunia. Indonesia bahkan tercatat memiliki prevalensi hipertensi tertinggi di kawasan, yang menjadi indikator kuat perlunya intervensi kesehatan kardiovaskular secara lebih sistematis.
Beliau menekankan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada tingginya angka kejadian, tetapi pada kesiapan sumber daya perawat. “Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas perawat melalui pendidikan lanjut yang menekankan kepemimpinan klinik dan riset terapan. Di sinilah kurikulum Magister Keperawatan dirancang untuk mencetak perawat yang mampu menjadi pengambil keputusan strategis di lapangan,” jelasnya.
Pendekatan Teoretis dan Diagnosis Profesional

Kuliah pakar ini memperkaya wawasan mahasiswa dengan berbagai pendekatan teoretis seperti PRECEDE–PROCEED Model dan Health Promotion Model (HPM). Peserta diajak memahami bahwa perawat harus mampu membaca data dan menyusun intervensi berbasis riset—sebuah kompetensi inti yang ditekankan dalam pendidikan magister.
Salah satu penekanan penting adalah penguatan diagnosis keperawatan berbasis SDKI, seperti Ineffective Health Management dan Risky Health Behavior. Prof. Yoyok menegaskan bahwa penguasaan diagnosis ini merupakan ciri perawat profesional yang terus diperkuat melalui jenjang pendidikan berkelanjutan.
Menuju Kampus Berdampak: Agenda Internasional Mendatang
Menutup sesi, Prof. Yoyok menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi penggerak perubahan sosial atau “Kampus Berdampak”. Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan dalam memperluas cakrawala internasional terkait isu ini, beliau mengumumkan agenda besar yang akan segera dilaksanakan.
Sebagai kelanjutan dari semangat sosialisasi program magister dan penguatan keilmuan, akan diadakan Kuliah Tamu Internasional terkait NCD pada 25 Februari 2026. Agenda prestisius ini akan menghadirkan pakar-pakar keperawatan dan kesehatan dari berbagai belahan dunia, mulai dari Republik Ceko (Czech Republic), Arab Saudi, Malawi (Afrika), hingga Malaysia.
“Kegiatan internasional ini bertujuan untuk membedah penanganan PTM dari berbagai perspektif lintas negara, sekaligus memberikan eksposur global bagi mahasiswa yang ingin mendalami keahliannya di tingkat magister,” tambah Prof. Yoyok.
Kuliah pakar ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kritis bahwa perubahan besar dalam kesehatan masyarakat dimulai dari langkah konsisten di komunitas. Dengan pendidikan yang lebih tinggi dan wawasan global, perawat Indonesia siap berkontribusi langsung dalam menyelamatkan masa depan bangsa melalui visi pendidikan keperawatan yang berkelanjutan.