MALANG – Program Studi Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat posisinya dalam pengembangan sains keperawatan melalui gelaran International Guest Lecture. Mengusung tema “Nurse-Led Intervention for NCD Prevention and Control”, acara ini menyoroti peran krusial perawat dalam menghadapi ancaman global Penyakit Tidak Menular (PTM).

Hadir sebagai pembicara utama, Ketua Program Studi Magister Keperawatan UMM, Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom, memaparkan fakta krusial bahwa PTM kini menyumbang lebih dari 71% kematian di seluruh dunia. Angka ini, menurut Prof. Yoyok, adalah sinyal bahwa pendekatan kesehatan tidak lagi bisa hanya mengandalkan aspek kuratif atau pengobatan semata.

International Guest Lecture Magister Keperawatan UMM

Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo saat memberikan materi dalam International Guest Lecture.

Perawat sebagai Agen Perubahan

Dalam orasinya, Prof. Yoyok menegaskan perlunya transformasi peran. Perawat masa kini dituntut untuk keluar dari zona nyaman asuhan klinis dan berani mengambil tongkat kepemimpinan dalam upaya promotif dan preventif.

“Perawat harus hadir sebagai pemimpin, peneliti, sekaligus agen pencegahan di tengah masyarakat. Kekuatan kita ada pada kedekatan dengan pasien dan komunitas; itulah modal strategis untuk mengubah perilaku kesehatan masyarakat,” tegas Prof. Yoyok.

Sinergi Teori dan Nilai Keislaman

Untuk memperkuat intervensi di lapangan, ia membedah integrasi tiga model teoretis besar: PRECEDE–PROCEED, Pender’s Health Promotion, dan Social Ecological Model. Perpaduan ini memungkinkan perawat melakukan diagnosis sosial yang mendalam hingga memahami motivasi individu dalam menjalankan pola hidup sehat.

Yang membedakan, Magister Keperawatan UMM mengintegrasikan teori-teori tersebut dengan nilai-nilai spiritual. Pendekatan ini disebut sebagai Islamic Research-Based Nursing Leadership in Non-Communicable Diseases. Tujuannya jelas: mencetak lulusan yang unggul secara akademik namun tetap teguh pada nilai Islam dan Muhammadiyah dalam memberikan kontribusi nyata bagi kebijakan kesehatan.

Kolaborasi Global dan Masa Depan Keperawatan

Menutup paparannya, Prof. Yoyok menekankan bahwa tantangan PTM bersifat lintas batas negara. Oleh karena itu, kolaborasi riset internasional dan inovasi yang adaptif menjadi harga mati. Perawat diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana di ruang perawatan, tetapi juga aktor utama di ranah kebijakan dan pemberdayaan masyarakat.

Antusiasme peserta yang terdiri dari akademisi dan praktisi membuktikan adanya kesadaran baru: perawat adalah garda terdepan sekaligus penjaga kesehatan publik yang mampu menekan angka PTM di level nasional maupun global.